Backpackeran : Jalan-Jalan Kuala Lumpur 2016 (Day 1 – part 2)

Dari Stesen KL Sentral ke Stesen Masjid Jamek hanya melewati 1 stesen, yaitu steses pasar seni. Kami turun dari stesen dan mencari pintu masuk menuju Masjid Jamek. Ternyata saat kami berkunjung Masjid Jamek sedang direnovasi sehingga ada pagar seng mengelilingi kompleks Masjid Jamek. Kami melihat ada celah diantara pagar seng, namun disitu ada penjaganya, etnis India tinggi besar dan seram. Mereka mengijinkan yang kerudungan masuk tapi yang ga pake seperti ditahan dan diajak ngobrol. Melihat kondisi seperti itu, 2 rekan saya yang non islam jadi merasa enggan untuk masuk. Saya juga jadi feeling gak enak kalo maksain masuk. Akhirnya kami mengurungkan niat kami masuk ke dalam kompleks Masjid Jamek dan berjalan lagi ke tujuan selanjutnya : Dataran Merdeka.

img-20160208-wa0032


Dataran merdeka, tapi sayang lagi mendung

Berbekal google maps kami berjalan melewati trotoar2 dengan gedung bernuansa kolonial. Suasananya mirip seperti Jakarta kalau menurut saya, ya sedikit lebih besih lah, kalo keruwetan dan kemacetan lalu lintas rasanya mirip dengan di Bandung. Saya sempat melihat di perempatan seperti jadi ‘terminal’ dengan bus bus usang berebut nyari penumpang, mirip seperti angkot yang lagi ngetem di Bandung.

Setelah berjalan kurang lebih 10 menit akhirnya kami sampai juga ke Dataran Merdeka yang sejatinya adalah alun-alun, mirip lapangan upacara bagi saya karena ada tiang bendera nya. Yang menarik adalah gedung-gedung di sekelilingnya. Gedung berarsitektur kolonial warna merah dan putih terlihat sangat cantik. Setelah puas foto2 dan mau apalagi disana selain foto-foto kami menuju ke KL City Gallery yang dekat dari situ. Tiket masuk KL City Gallery 5 RM yang bisa ditukar menjadi voucher untuk beli souvenir atau makanan/minuman. Isi KL City Gallery menceritakan tentang sejaranh pembangunan KL, yang menarik ada pertunjukan diorama rencana pembangunan KL. Pertunjukannya di dalam ruangan tertutup, saat mulai lampu dimatikan lalu ada pertunjukan lampu2 yang menyorot. Keren abis. Selesai nonton, kami keluar menuju souvenir shop untuk beli tempelan magnet dengan voucher yang didapat saat beli tiket masuk tadi. Keluar dari Gallery tidak lupa kami berfoto di huruf KL raksasa warna merah.

20160206_172413


Iconic Statue

Beres dari situ sekitar jam 5 kami berjalan menuju shelter bus Go KL pasar seni untuk naik bus jalur ungu menuju KL Tower. Sempat nyasar karena kami mengira2 dengan GPS dimana letak shelter nya. Akhirnya saat kami nunggu geje di pinggir jalan kami lihat ada bus Go KL lewat, dan kami lari ngikutin bus nya berharap bisa naik di shelter selanjutnya. Ngos-ngosan ngejar bus gak sia-sia karena kami berhasil naik ke dalam bus. Bus pun berjalan lalu di shelter berikutnya berhenti di belakang antrean bus bus lainnya. Lalu semua orang turun, kami masih bingung kok pendek amat trayeknya. Kami pun turun dan melihat papan nama di Shelter nya bertuliskan PASAR SENI. Ternyata oh ternyata kami naik dari shelter sebelum pasar seni, dan pasar seni ibarat tujuan akhir. Jadi kami jalan menuju bus terdepan, masuk ke dalamnya dan baru bisa duduk lega.

Kami turun di shelter Menara Olympia karena dari hasil googling shelter tersebut yang paling dekat ke KL tower. Dari situ kami menyusuri jalan yang agak menanjak hingga ke gerbang masuk. Dari situ masih lumayan jauh menuju tower, namun sudah disediakan shuttle gratis untuk menuju dasar tower. Sampai di dasar tower kami disambut oleh usher yang dengan ramah menawarkan tiket2 yang ada. Saat melihat tiket untuk ke observation deck kami shocked, karena harganya 2 kali lipat dengan yang kami lihat di internet. Kami mengira harga tiket hingga open deck sekitar 50 RM, namun ternyata paket open deck + conservatory nya 105 RM. Disitu kami mulai galau apakah kami akan rela mengikhlaskan ringgit yang kami bawa mengingat jumlahnya tidak terlalu banyak. Setelah menimbang matang-matang, dengan asas mumpung ke sini dan ga tau kapan lagi kesini akhirnya kami memutuskan untuk beli tiket open deck. Setelah mendapatkan tiket, kami diminta mengisi semacam form gitu. Intinya pihak KL tower tidak bertanggung jawab atas segala tindakan membahayakan diri sendiri yang dilakukan saat ada di open deck. Mungkin biar ga disalahin kalau ada wisatawan yang tiba-tiba loncat dan bunuh diri. Kami antre untuk naik lift ke lantai open deck berada. Ngantri nya lumayan lama, sampai ada salah satu guide bilang gini ‘where you go?open deck? Oh that will be so long, wait for a life’ Singkat cerita kami tiba di open deck. Kesan pertama uanginnya kuenceng banget. Ya wajar open deck memang di desain seperti koridor terbuka dengan pengaman pagar kaca di sekelilingnya. Dengan prinsip ogah rugi yang kami junjung tinggi, kami rela nunggu sekitar 2 jam untuk mendapat view sunset dan menara Petronas. E-me-jing. Puas liatnya, dipuas-puasin sih sebenernya. Setelah langit betul-betul gelap, dan sudah puas jeprat jepret, kami turun ke observation deck. Suasana di observation deck sangat ramai saat itu. Ruangan yang seperti koridor melingkar dengan dinding luar kaca menyuguhkan pemandangan yang kurang lebih sama dengan open deck. Bedanya hanya terhalang kaca. Kalau ditanya worthed enggak?hmm relatif. Buat kami kesannya adalah : bagus sih, kemahalan tapinya. Cukup sekali aja ngerasainnya.

20160206_193306

Twin Tower dari KL Tower

Selesai dengan KL tower kami masih melanjutkan itinerary kami ke tujuan akhir : China town. Kami naik Go KL jalur ungu tapi dari sebrang jalan tempat kami turun. Agak lama nunggu go KL lewat, dan saat kami masuk suasana bus sudah penuh. Untung badan kami termasuk mungil jadi bisa nyelip diantara pada orang-orang India yang tinggi gede. Kami turun di shelter kotaraya dari situ kami berjalan ke Petaling street, kawasan pecinan di KL. Suasana Petaling street seperti layaknya chinatown, dengan lampion warna merah yang menggantung di langit-langitnya dan kios-kios yang menjual berbagai macam. Kami berniat mencari souvenir disini, dan membeli gantungan kunci dan magnet sebagai suvenir untuk rekan-rekan kantor. Selesai dari Petaling Street kami jalan ke stesen LRT Pasar Seni kembali ke KL Sentral dan beristirahat di Hotel.

Advertisements
Categories: travelling | Leave a comment

Backpackeran : Jalan-Jalan Kuala Lumpur 2016 (Day 1 – part 1)

Bulan Februari kemaren (iye ini super late post abis) pas libur Imlek saya, suami dan 2 teman saya berkesempatan untuk jalan-jalan ke Kuala Lumpur. Ini pertama kali nya bagi kami berempat untuk menginjakkan kaki di ibukota negri jiran. Dengan ngomporin harga tiket 1 juta pp itu udah murah banget (padahal enggak) jadilah suami dan temen2 saya berhasil saya hasut. Haha

Ngomongin tiket, sebenernya 1 juta pp ke KL itu gak murah2 amat. Cuman waktu Februari kemaren saya belum canggih nih nyari tau dimana beli tiket promo. Kami beli tiket langsung dari website Air Asia nya. Harga tiket promo untuk Air Asia yang termurah sejauh saya tau adalah saat final call, yaitu setiap senin di akhir bulan. Jadi kalo mau berburu tiket murah follow aja travel2 agent yang jual promo Air Asia di IG atau line. Sebagai perbandingan, dengan beli tiket saat final call saya bisa dapet tiket Bandung-KL cuman 550ribu pp/orang. Jauh banget dibanding beli di web asli nya yang masih 1 juta ke atas untuk keberangkatan bulan Oktober nanti.

Akhirnya hari berangkat pun tiba. Rencana kami berangkat Sabtu pagi pulang Senin pagi. Berangkat ke bandara, saya dan suami menitipkan motor di parkiran bandara Husein Sastranegara. Jangan lupa bilang sama petugas parkir nya kalau mau nitipin motor, buat jaga-jaga aja. Jadwal take off pesawat kami 07.50 pagi. Perjalanan ke KL sekitar 2 jam. Dengan perbedaan waktu KL-Bandung yang lebih cepat 1 jam, kami tiba di KLIA2 sekitar pukul 11 siang waktu setempat. Bandaranya gedddee banget, jarak dari gate ke arrival hall aja mayan jauh. Kami mampir ke Lantai 2 Mall yang asik banget ini buat beli sim card. Kami beli sim card dari Digi di KLIA2, harganya 30 RM an, kuota nya lupa tapi itu udah pasti cukup, lebih malah, buat dipake 3 hari di KL. Karena ini simcard khusus buat turis (sim card untuk warga asli harus diaktifin pake ID Malaysia) pas beli passport kita di fotocopy sama mereka.

Setelah paket data ok, kami menuju pintu keluar kedatangan. Mampir sebentar ke supermarket buat beli minum dan roti. Lalu kami menuju loket aerobus/skybus untuk ke KL center. Harga tiket bus dari KLIA2 ke KL centra 11 RM/orang. Di situ sudah tertulis jam keberangkatan, tapi kenyataannya saat kami jalan ke luar kami dipanggil oleh semacan kernet lalu tiket kami dicek dan kami disuruh masuk. Bus nya ada 2 macam, ada yang warna kuning dan merah, semuanya sama tujuannya ke KL sentral. Perjalanan dari KLIA2 ke KL sentral menempuh waktu sekitar 1 jam an. Sepanjang jalan mayoritas kebun kelapa sawit dan jalan tol. Pemandangan baru berbeda saat sudah mau masuk ke KL. Mirip Jakarta sih cuman lebih rapih.

Dari KL Sentral kami langsung ke Prescott Hotel di Jalan Tun Sambathan. Dari tempat turun bus tinggal jalan ke arah luar menuju jalan besar. Dari situ kami berjalan kurang lebih 300 meter ke kiri menuju hotel. Hotelnya terletak persis di pinggir jalan. Kami memesan 1 kamar double dan 1 kawar twin. So far hotel nya lebih bagus dari ekspektasi saya terhadap hotel dengan rate 350rb an/malam sudah lengkap dengan setrika , hair dryer dan ada sajadah. Jangan lupa bawa charger universal, soalnya colokan di sini beda sama di Indonesia.

Setelah shalat dan beres-beres kami siap ke tujuan untuk hari ini: Mesjid Jamek-Dataran Merdeka-KL Gallery-KL Tower-China Town. Langsung ke KL Sentral, makan dulu di Burger King. Pas bayar ternyata kasirnya orang Indonesia asli Madura, diajak ngobrol bahasa Indonesia dan dia ngira kami lagi libur kuliah. Oyeaaah masih disangka mahasiswa. Yes. Padahal bisa aja maksud dia mahasiswa S2 atau S3 kan. meh. Entah bener apa saya salah inget, tapi saya ngerasa harga paket BK di KL lebih murah dibanding disini.

Lalu kami menuju ke atas untuk naik LRT ke mesjid jamek. Beli tiket di mesin gitu, tinggal pilih tujuan, jumlah orang, masukin uangnya, terus keluar tiket yang bentuknya kayak koin plastik gitu. Cara pakai tiket nya tinggal di tap di pintu masuk terus pas mau keluar tinggal masukin ke lubang.

To be continued….

Categories: beranda dunia, travelling | Leave a comment

(Pasca) HIATUS

Demi apa postingan terakhir jaman lulus Apotekerr?? demi apaa haah! Ckck demi..kianlah adanya. Selama 4 tahun gak ngepost sama sekali. Terus ngapain aja doong? Jawabnya ada,,,,, di ujung langit. Kita kesana dengan seorang anak *OOT. Sudah 4 taun saya betul betul berhenti nulis. Sempet ngerasa hidup saya garing boring galau-ing mulu isinya. Full rutinitas 8-5 di ibukota. Rasanya energi dan keinginan nulis menguap kena panas Jakarta yang hot nya ngalahin Adam Levine. Alesan mulu, itu sih usahanya yang segitu-segitu doang. Kemerin kemarin sempet baca ada gerakan One Day One Post (ODOP) di FB, sempet teratarik tapi apa daya cuman sampe tertarik doang, niat ga ada. Meh. Sempet juga pengen ceritain pengelaman pas backpakeran atau pergi kemana gitu, tapi males banget buka laptop. Emang banyak malesnya kalo dipikir-pikir. Padahal somehow kalo saya mau backpakeran, selalu cari referensi dari blog-blog di dunia maya.

Saat liat postingan terakhir 4 taun lalu, kondisi badan saya sudah mengalami banyak perubahan. Kerjaan sekarang merupakan tempat ketiga di Bandung, which is im going back for good. Daaan (akhirnya) saya sudah menikah. Saya kira bakal rajin ngeblog pas awal2 nikah, eh enggak tuh. Jangankan ngeblog, buka laptop saja aku sulit.

Lalu saya sekarang tiba-tiba pengen nulis lagi setelah ngepoin calon istri temen saya yang ternyata suka nulis. Ga tau deh akan jadi apa nanti isinya, apa masih sama kayak dulu jaman masih perawan (?!)

Cobain aja.

Lah.

Bandung, 290916

Categories: just share it | Leave a comment

Cerita 3 Huruf : Ujian Apoteker ITB ( part-3 )

Ujian Praktik : Lab Pengujian Mutu

Untuk ujian praktik  saya kebagian di Lab Pengujian Mutu. Seperti yang temen saya, tiesa, bilang “beruntunglah orang2 yang dapet steril tapi gak dapet lab steril” dan saya salah satunya. Alhamdulillah gak dapet di steril, ya walau kalo mau bikin tinggal ngelarutin pake aer doang tapi tetep aja lebih repot. Surat tugas pengujian mutu saya termasuk rame isinya. Karena macem2 metodenya. Untuk identifikasi bahan baku saya dapat spektrofotometri Infra Red dan KLT. Penetapan kadar bahan baku Titrasi Bebas Air (TBA). Uji kemurnian : rotasi jenis, jarak lebur, susut pengeringan. Identifikasi sediaan KLT. Penetapan kadar sediaan: UV. Rame kan? Bahkan awalnya penetapan kadar sediaan pake TBA, dengan dalih sediaan saya adalah injeksi dengan pelarut air saya lapor ke dosen koordinator, jadinya diganti UV. Padahal kalo mau niat sih bisa aja dipreparasi dulu itu injeksinya.

Hari pertama identifikasi, kecuali IR, penetapan kadar BB dan uji kemurnian beres. capek banget, dipolin nyampe jam 5 soalnya. Mana KLT ngulang karna pengembang yang pertama Rf nya kecil banget. Untung udah nyiapin pengembang alternatif, yang sedikit saya modif dikit dengan nambahin amonia pekat ke metanolnya dengan harapan si Efedrin HCl yang basa lemah akan jadi bentuk bebas kalo kena basa, jadi kepolarannya turun dan bisa lebih naik. Eh berhasil. Alhamdulillah. Pas hari kedua sebenernya tinggal IR, tapi saya ngulang lagi TBA, jarak lebur, dan rotasi jenis buat mastiin lagi aja. Jam 3 akhirnya udah beres, udah mek nyuci2 sama nyiapin alat buat besok juga. Yaudah deh pulang, udah disuruh pulang juga sama Bu Ophi sbenernya dari abis istirahat.

Yak hari terakhir dengan semangat menggebu2 (pengen cepet beres) langsung nge UV. Sayangnya asumsi konsentrasi sampel sediaan yang saya buat salah. Saya berasumsi konsentrasinya sama dengan usulan UPP saya yaitu 25mg/mL. Panjang gelombang maksnya juga saya tentuin pake scan wavelength dulu, karena di pustaka gak ada keterangan panjang gelombang maks dalam pelarut air. Harusnya gak jauh beda sih. Eh bener. Tapi ternyata absorbansi sampelnya berbeda hampir setengahnya dari larutan bakunya. Wah berarti saya dikasih sampel sediaan yang konsentrasinya lebih kecil nih. Langsung saya asumsiin kalo konsentarsi sediaannya 12,5 mg/mL. Saya bikin pengenceran yang sama lagi dengan baku, terus saya itung lagi absorbansinya. Lumayan lebih mendekati. Saya itung2 konsentrasi sampel nya 14 mg/mL an. Sedikit curiga karna angkanya kurang bulet2 gimana gitu buat ditimbang, saya bikin asumsi lagi yang ketiga. Mengingat saya masih punya waktu dan UV nya lagi kosong juga. Asumsi ketiga saya konsentrasi sampel adalah 15 mg/mL. Emang jadi repot sih pas pengenceran karna harus mipet 8,33 mL gitu. Tapi ya udah gakpapa, daripada penasaran gak dicoba.hehe. Dan ternyata absorbansinya jauh lebih deket lagi beda 0,01 sama absorbansi baku. Uh yea. Diitung2 emang dapet konsentrasinya 15,0sekian lah. mayann. Udah deh jam setengah 4 udah beres, cek lagi, nyuci alat2, beresin lemari, dan cek alat. Pulang deh.hehe. Ini emang enaknya kalo dapet di Pengujian Mutu J

Selanjutnya saya tinggal pasrah seikhlas2nya. Saya sudah berusaha seoptimal yang saya bisa. Masih banyak yang perlu saya evaluasi selama prosesnya. Dan akhirnya saat yudisium saya dinyatakan lulus. Alhamdulillah, atas izin Allah J

Ya kurang lebih begitu lah cerita 3 huruf saya. Saya merasa banyak pembelajaran selama berproses di dalamnya. Untuk hasil sih saya betul2 pasrah seridhlanya Allah saja. Tapi saya betul2 merasa ini ujian luar biasa. Emang sih ini paling baru seberapanya dari ujian hidup. Tapi setidaknya saya pernah belajar bahwa berjuang itu bukan hanya berusaha mengerjakan sebaik-baiknya, atau berkompetisi untuk jadi yang terbaik. Tapi juga segera bangkit saat merasa lemah, saat merasa gundah, dan segera berlari mencari solusi dengan terus berbaik sangka kepadaNya. Mungkin jika sulit untuk mulai bangkit, mulailah dengan memaafkan diri sendiri. Memaafkan kesalahan yang telah dibuat karena kelemahan dan keterbatasan kita sebagai manusia. Mengakui kelemahan kita kepada-Nya sambil memohon petunjuk dan kekuatan dari-Nya. Percayalah, Allah itu tidak pernah tidur. Ia selalu mendengar doa setiap hamba-Nya. Seperti yang telah diwahyukan dalam AlQuran,, “Berdoalah kepadaku, niscaya Aku kabulkan”.

Semoga Allah ridhla dan memberkahi amanah ini.amin.amin.amin.

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Cerita 3 Huruf : Ujian Apoteker ITB ( part-2 )

Ujian Lisan

Ujian lisan ini tentang wawasan kefarmasian dan konfirmasi UPP. Dosis, aturan pakai, dan ipc saya ada yang salah. Galau kan. ah galau mulu. Biarin yang penting walau galau saya tetep usaha nyari yang benernya gimana. Walau galau saya tidak berhenti mengevaluasi dan memperbaikinya. Ternyataaa, setelah saya hitung ulang lagi volume pemberian minimum anak2 (setelah dikonversi pakai tabel berat badan di TPC) lebih besar dari volume pemberian minimum dewasa, walau batas max nya tidak lebih dari dosis dewasa. Trus rute pemberiannya juga bermasalah. Ah pokonya ketauan banget deh saya waktu UPP gak mikir sedalam ini. Alhasil H-1 saya yang baru ngeh setelah baca jurnal untuk kesekian kalinya nelpon K muthe buat mencari solusi kalo2 ditanya kenapa dosis dan rutenya kok rada aneh begitu. Akhirnya nemu deh solusinya gimana. huhu, K muthe terimakasihhhhh, you’re my savior banget deh judulnya.hehe. Allah sih sebenernya, cuma k muthe gitu perantaranya 😀 Kalo buat IPC sih saya udah tau jawaban benernya dan kenapa bisa salah, yaitu karna salah nulis.hehe.

Yak hari yang dinanti (buat diskip) juga tiba, saya yang kebagian jam 8.30 di R.Farklin dalam sudah datang 40 menit sebelumnya. Begitu masuk liat ada Pak Komar. Aaaa pak komarr, melihat wajah dan senyum beliau langsung tenang seketika. Ntah sebego apa saya ntar ngejawab tapi kalo ada pak komar efek nya tetep tenang.hehe (pengalaman sidang S1 dulu). Disitu ada Ibu Dina dari BPOM, Bu Jo dari Mepro, Pak Basuki praktisi industri, pak Leo dosen manfar juragan apotek, bu sri dari RSHS. Pertanyaan dari Bu dina rada2 macet2 dijawabnya, untung ibunya baik jadi suka dikasih clue. Yang industri sama Apotek Alhamdulillah lancar, kecuali pas ditanya kelas ruangan steril. Saya jawab bisa di kelas C kalo sediaan yang disterilisasi akhir, tapi bapaknya bilang bukan, padahal di CPOB yang saya baca begitu.ntah lah. Alhamdulillah secara keseluruhan lancar. Bahkan gak ada konfirmasi dari dosen, malah saya mengajukan sendiri. Berhubung sebenernya gak ada, jadi saya cuma konfirm ttg rute saja, gak semua yang saya anggap salah. Allah Maha Baik

Beberapa hari setelah itu keluar pengumuman, alhamdulillah saya lulus ujian tahap 1 dan 2 tanpa peringatan.

 

kurang lebih begini suasananya

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Cerita 3 Huruf : Ujian Apoteker ITB ( part-1 )

Adalah A, p, dan t ketiga huruf yang saya maksud. Apoteker jika singkatan tersebut diuraikan. Sebuah gelar keprofesian yang akan menjadi amanah saya selain sarjana farmasi yang telah saya kantongi sebelumnya. Tanggal 11 September 2012 kemarin, hasil yudisium menyatakan saya lulus dalam ujian apoteker di ITB. Ujian apoteker yang konon paling sulit di Indonesia (bahkan ada yang bilang se-Asia tenggara, wallahualam). Campur aduk, antara bahagia dan juga sedih karena 3 teman saya tidak lulus pada ujian tahap akhir ini. Sehingga jika ditotal ada 10 teman saya yang tidak lulus dalam serangkaian ujian apoteker di ITB kali ini. Sedih, mengingat kami sama-sama berjuang bersama dari persiapan hingga tahap akhir. Tapi saya percaya Allah selalu punya rencana baik lain yang kadang belum bisa kita pahami saat ini.

Perjalanan dimulai pada tanggal 31 Juli hingga 5 September 2012. Ujian dibagi menjadi 3 tahap: Ujian Penelusuran Pustaka (UPP), Ujian Lisan Konfirmasi UPP dan Wawasan Kefarmasian, serta Ujian Praktik.

Ujian Penelusuran Pustaka (UPP)

Ini yang paling hip, paling ribet, paling berkesan. Hanya dalam waktu 2 hari kami harus membuat jurnal lengkap terkait soal yang kami dapat. Isi jurnal berupa : Tinjauan umum senyawa aktif dan sediaannya, Uraian dan analisis farmakologi, Analisis preformulasi, formulasi, dan usulan formula, Pembuatan dan evaluasi farmasetik sediaan akhir, Analisis kimia dan pengujian mutu bahan baku dan sediaan, Wadah dan informasi obat, dan pustaka.

Hari pertama UPP kami mengambil undian soal. Dag-dig-dug persaan saya, dapet soal apa yaa..saya gak pernah mimpi kayak temen2 saya yg lain dapet soal apa, tapi feeling saya bilang saya dapet sediaan yang likuid, kalo gak larutan ya suspensi. Dan ternyata saat saya buka gulungan kertas soal, saya dapat Injeksi Efedrin 10 ampul. Wah beneran likuid.haha. Di monografi sebenernya Efedrin ada dalam bentuk base dan garam. Pas awal ngerjain tinjauan umum zat aktif saya pake yang bentuk base, karna belum kepikiran pake garam soalnya kelarutan Efedrin dalam bentuk base masih baik dalam air. Begitu saya liat Florey, disitu adanya Efedrin HCl aja, di monografi lain juga ternyata ada Efedrin HCl dan Efedrin Sulfat. Baru deh disitu mikir lagi mau pake yang mana. Setelah liat MIMS, ISO, dan IONI sediaan di pasaran adanya dalam bentuk Efedrin HCl, plus liat list bundel/jurnal adanya Efedrin HCl, maka dengan mantap saya pilih Efedrin HCl. Perlu dipertimbangkan indikasi, dosis, dan rasionalisasi bentuk sediaan yang akan dibuat untuk pemilihan bentuk zat aktif yang akan dipakai.

Hari pertama UPP saya selesai tinjauan umum, farmakologi yang awal2, sama evaluasi sediaan. Masih banyak yang belum saya tulis, terutama farmakologi, soalnya injeksi efedrin udah jarang dipake lagi, jadi pemilihan indikasinya harus yang rasional. Malamnya di M saya diskusi dengan partner ttg indikasinya. Baru kali ini saya galau gara2 ujian. Soalnya untuk satu indikasi saja, dari pustaka yang berbeda dosisnya beda. Meh apa2an nih. Jadi saya harus mengacu pada satu pustaka yang menurut saya paling masuk akal dibanding yang lainnya. Dan pilihan saya jatuh pada AHFS. Emang sih  AHFS sebetulnya bukan pustaka primer, tapi saya udah pusing sama pustaka lain. Itu pustaka yang paling jelas dan mudah saya mengerti. Jadi setelah tidak tidur semalaman (ini sangat tidak disarankan), dan merepotkan ara, gita, eriwan, hubby, jam 5 pagi setelah shalat subuh saya mengambil keputusan untuk memilihi 2 indikasi, yaitu untuk bronkospasmus dan hipotensi. Nekat memang. Mengingat indikasi yg berhubungan kardiovaskular aja udah ribet ini lagi ditambah respirasi. Tapi bismillah, saya merasa punya alasan cukup kuat walau ternyata setelah diselidiki lagi dosisnya sedikit kurang lazim.hue.

Hari kedua udah ngebut nyalin jurnal. Keriting deh jari nyampe mati rasa karna (salahnya) saya nulis rada neken. Setengah 5 dapus belum kesentuh, udah ada aja yang ngumpulin. Buset. Nulis pake 2 tangan sekaligus kayaknya (lebay haha). Langsung ngebut nulis dapus, ya walau akhirnya dapusnya seadanya.hehe. Makanya nulis dapus di hari pertama aja, biar masih bagus gitu tulisannya gak kayak saya :p Begitu beres, pulang, dan tidur sepules2nya. Besoknya jugak.hehe. Maklum kebo dipaksa jadi burung hantu ya kayak saya gini, hibernasi 2 hari 😀

Kurang lebih seperti ini suasananya. (Fot0 saya ambil dari http://www.fa.itb.ac.id/?p=1988 ini UPP tahun sebelumnya)

Penelusuran pustaka buku lajur

Suasana UPP

ps: kalo sudah ada foto UPP angkatan saya di web, saya update lagi deh

Categories: just share it, lantai mozaik | Tags: , , | 6 Comments

Apa yang membuat bertahan?

Apa yang masih membuat bertahan?
tidak suka sendiri,
lebih suka ditemani,
Saat ada pihak lain yang bersedia menemani, apakah masih valid alasan bertahan?

Apa yang masih membuat bertahan?
tidak bisa hidup sendiri,
namun masih bisa hidup tanpa didampingi,
namun masih baik-baik saja jika terpisah,
Apa masih bisa bertahan?

Mereka bilang adaptasi
saya bilang toleransi

Mereka bilang dipersatukan itu takdir
takdir yang mana pun saya tidak tau
Yang saya tau, suatu saat apapun yang dupertahankan pasti akan terberai
entah karena keputusan mutlak kuasa Tuhan
maupun keputusan manusia
Itu takdir bertahan yang saya pahami

Categories: Uncategorized | 2 Comments

agree

” Saya selalu menyarankan ini, jika kalian masih muda, punya banyak waktu luang, tidak memiliki terlalu banyak keterbatasan, maka berkelilinglah melihat dunia. Bawa satu ransel di pundak, berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain, dari satu lembah ke lembah lain, pantai, gunung, hutan, padang rumput, dan sebagainya. Menyatu dengan kebiasaan setempat, naik turun angkutan umum, menumpang menginap di rumah-rumah, selasar masjid, penginapan murah meriah, nongkrong di pasar, ngobrol dengan banyak orang, menikmati setiap detik proses tersebut.

Maka, semoga, pemahaman yang lebih bernilai dibanding pendidikan formal akan datang. Dunia ini bukan sekadar duduk di depan laptop atau HP, lantas terkoneksi dengan jaringan sosial yang sebenarnya semu. Bertemu dengan banyak orang, kebiasaan, akan membuka simpul pengertian yang lebih besar. Karena sejatinya, kebahagiaan, pemahaman, prinsip-prinsip hidup itu ada di dalam hati. Kita lah yang tahu persis apakah kita nyaman, tenteram dengan semua itu. Nah, kalau kalian punya keterbatasan, lakukanlah dalam skala kecil, jarak lebih dekat, dengan pertimbangan keamanan lebih prioritas. Itu sama saja. Lihatlah dunia, pergilah berpetualang, perintah itu ada dalam setiap ajaran luhur.”

-Tere Liye-

Categories: Uncategorized | 8 Comments

MBALI (part 4-finish)

Day 4

Hasil main UNO nyampe larut ternyata bikin pada bangun telat.haha. Yaudah deh, buru2 ganti baju, terus ngacir ke sanur. Terus pake mencar di jalan dan kita nyampe ke pantai sanur yang berbeda. Jadi ceritanya kita pake GPS di 2 hp nih. Kan 5 orang di 3 motor, dgn keadaan gw gak bonceng siapa2. Jadi gw ngikut salah satu dari 2 motor yang lain karna gw gak bisa liat GPS. GPS ada di motor teguh dan ratih. Taunya keyword GPS mereka beda. Dodol emang. Jadinya ratih ke sanur yang manaa gw sama teguh ke sanur yang mana. Ke gak sinkronan ini menambah kebetean dengan tidak terlihatnya sunrise. Iya, sunrisenya ketutupan awan. Jadi gak asik.kecewa.

Tapi kekecewaan sedikit terbayar saat kita nyampe ke Pantai Dreamland. Itu loh pantai yang ada di tanah resort nya Tommy soeharto. Tajir mampus deh tu orang. Apalagi bapaknya ya?huoo $.$. Dari Sanur ke arah kuta dulu, ntar ke arah uluwatu lagi, terus masuk ke pecatu indah resort, teruuuss masuk nyampe mentok pantai. Pantainya kecil, tapi bersih, tenang, terus ombaknya rada gede, tapi pantainya dangkal. Makanya ada beberapa surfer yang latihan disini. Bagus deh dreamland. Kebayar bete di sanurnya.

 

 

Puas liatin tu pantai dreamland, akhirnya kita cepet balik ke hotel. Sebelumnya kita sempet mampir buat beli Pia Legong. Bukan kita sih sebenernya, Susi doang yang beli. Abisnya kita udah pada kere. Gak mampu beli pia yang sekotak harganya 70 rb. Bisa gw emut itu makan pianya biar awet. Abis dari situ langsung ngebut balik ke hotel, soalnya kita harus check out dan take off ntar siang. Beres packing, kita check out. Sambil nunggu taxi dateng, kita msih sempet sarapan (atau brunch ya?) soalnya waktu sarapannya nyampe jam 11. Dan saat check out, mau ambil KTP, eh KTP teguh yang dijadiin jaminannya gak ada, kebawa sama bli yang nerima kita waktu itu. Akhirnya terpaksa diikhlasin pulang tanpa bawa KTP.

Kita pake blue bird buat ke airport, berhubung lagi macet, dan tadi supirnya udah nyalain argo pas kita masih nungguin tentang KTP, jadinya ongkos taxi 40 rb (plus parkir bandara 3rb). Nyampe Ngurah Rai kita check in. Sempet bingung gate nya yang mana, karna di boarding pass gak ada keterangannya. Untung di depan counter Air Asia ada mbak2 air asia yang mobile, jadi kita bisa nanya. Terus di antrian bagasi masa ada cici2 yang  berantem?tereak2 lagi berantem nya. Make makian2 kebon binatang. Heboh deh. Dan mereka udah kayak lagi syuting aja gak peduli diliatin sama yang nonton.  Pagi2 gw udah liat sinetron, pertanda apa ini Ya Tuhan.. Sebelum masuk ke ruang tunggu, bayar airport tax dulu 40rb/orang. Di waiting room kita lumayan lama nunggu karna panggilan boardingnya mepet banget sama jadwal take off nya. Sambil nunggu kita main UNO dulu. Dan yang jadi mejanya adalah tumpukan koper. Bodo amat deh diliatin seisi waiting room. We’re bored okay? Akhirnya kita masuk ke dalem pesawat, dan 1 jam 45 menit mengangkasa, akhirnya nyampe lagi di Bandung.

What a nice holiday..

Bali, I’ll be back.

Tapi mau coba gak rame2 lagi ah kalo nanti.hehehe 😛

Categories: beranda dunia, lantai mozaik | 2 Comments

MBALI (part 3)

Day 3

Rencana hari ini adalah ke Tanah Lot, Bedugul, Sangeh, dan Ubud. Berhubung semua objek wisatanya jauh2, jadi kita nyewa mobil plus supir. Kita nyewa mobil+supir+bbm 400rb. Lumayan lah, karna emang jauh dan jalannya gak segampang di sekitaran Kuta. Pertama kita ke Tanah Lot, disana bayar 10rb/orang plus parkir mobil 5rb. Di Tanah Lot airnya lagi rada pasang jadi gak bisa nyebrang ke pura yang satunya lagi yang ada air sucinya itu. Pemandangannya gak kalah bagus sama Uluwatu, tapi secara personal lebih suka Uluwatu, ada ketenangan tersendiri gitu dibalik keindahannya.tsah. Ternyata Tanah Lot bukan cuma Pura yang kepisah doang, kalo ke sebelah utarnya ternyata ada kayak tebing karang terus bagian tengah bawah nya bolong, menarik deh.

 

Dari Tanah Lot rencananya kita mau ke Bedugul terus ke Sangeh. Tapi kata supirnya Sangeh jauh, terus katanya kalo mau liat monyet ke Alas Kedaton aja yang sejalur dari Tanah Lot (masih di daerah Tabanan juga), jadi kita ke Alas Kedaton. HTM Alas Kedaton 10 rb sama kayak Tanah Lot, emang pas gw liat di tiketnya ditentuin berdasar SK bupati Tabanan, jadi semua objek wisata di daerah Tabanan 10 rb. Ternyata pas masuk ya gitu2 aja, ada monyet kesana kesini, tempatnya mirip lapangan gitu di pinggir hutan, terus ada pura nya. Monyet nya lebih jinak. Tapi tetep aja gw gak betah karna emang gak suka (dan takut) sama monyet. Disana juga ada kelelawar gede yang bisa dipegang terus foto bareng. Tadinya pada mau foto bareng dengan biaya sukarela yang dimasukin ke kencleng. Tentu saja gw ber-hell no tankyouverymuch.

Dari Alas Kedaton kita lanjut ke Bedugul. Semacam Lembang atau Ciwidey kali ya kalo disini. Gw sengaja minum antimo biar gak pake pusing dan mabok selama perjalanan 2 jam yang belok2 itu, ditambah duduk di kursi paling belakang. Jadi daripada ntar keluar jackpot, mending gw tidur aja walau katanya pemandangan sekitar bedugul bagus banget. Beneran 2 jam ternyata, tidurnya. Bangun2 udah nyampe di Bedugul, tepatnya di Ulun Danu, Danau Beratan. Disana tempatnya gak kalah bagus. Ada taman bunga, terus yang paling hip adalah pura ulun danu yang lo pada biasa liat di duit 50rebu an. Yeah gw liat langsung penampakan asli nya. Bagus banget. Mana cuacanya lagi bagus, cerah berawan gitu deh. Lagi2 suasananya romantis. Emang ke Bali nih harusnya bedua aja pas lagi honeymoon atau semacamnya lah.nyehehehe

 

 

Dari situ kita makan dulu di sekitar Bedugul. Dan ternyata hawa disana dingin banget. Udah dingin anginnya juga kenceng. Menggigil deh lo kalo gak pake jaket atau baju panjang, makan di restoran yang kebuka kayak tempat gw makan siang ini. Lagi2 milih makan ayam betutu. Biar tau ayam betutu tuh sebenernya cem mana. Dan ternyata disini ayam betutunya lebih sederhana paketnya. Cuma ayam yang emang udah nyampur sama kuah bumbunya. Gak kaya yang di Kuta kemaren.

Abis makan kita langsung ke Ubud. Penasaran pengen liat Ubud kayak apa, soalnya jadi tempat shooting eat pray love, walau entah itu dibagian mananya Ubud. Gw juga gak tau sebenernya mau liat apa itu di Ubud.Yang menarik di jalanan Ubud adalah banyak toko2 benda seni, buat pajangan di rumah, kantor atau apa pun. Dari mulai keramik, pahatan kayu, pahatan batu, macem2 bentuk. Beneran asik banget ini kalo mau belanja buat dekorasi rumah. Tapi ternyata bukan itu tujuannya. Mobil terus melaju sampe daerah yang namanya Tegallalang. Disitu ada pandesa adat yang narikin HTM buat masuk ke desa tsb. Perorang kena 5rb. Makin penasaran gw emang ada apa di dalemnya. Dan ternyata abis ditarikin duit mobil parkir dipinggir jalan, depan toko suvenir. Dan that’s it. Mau tau ada apa? Ternyata kita jauh2 ke Ubud buat liat Terasering saja sodara2! gak lebih. Yakali, daerah rumah gw jaman dulu sama di tempat mbah gw juga ada beginian, nyampe jauh2 ke bali segala. Mungkin buat bule2 yang pada dateng sih amazing kali ya. Yaudah kita cuma foto2 bentar, dan gw malah tertarik sama piring dari mozaik kaca. Bagus deh. Pengen beli satu set, tapi mahal.dan berat.males. Eh gw malah beli kain batik bali disini.haha. Lumayan, waktu di kumbasari gak sempet nyari beginian, jadinya gw beli di Ubud aja deh daripada nyesek gak nemu apa yang sebenernya pengen dibeli. Dan ternyata gak mahal2 amat, dikira karna di tempat wisata jadi mahal, taunya 35 rb. Yaudah gpp, soalnya pas di Krisna gw liat kain songketnya bali 200rb an. Close enough. Dari Ubud kita balik lagi ke hotel. Dan yang seru adalah kita (terpaksa) shalat di mobil dgn wudhlu tayamum karna gak nemu tempat shalat. Rada2 gimana gitu ya shalat sambil goyang2.

It’s not the end of the trip. Emang kita gak ada yang mau rugi. Nyampe di hotel malem sekitar jam 7an, kita siap2 buat cabut lagi. Kita mau cari tempat makan, niatan awal kita mau ke warung made di kuta. Pas udah turun dan liat harganya yang (menurut kita) mahal, bikin males makan disitu. Nasi campur 40 rebu?gw udah bisa makan 2 atau 3 porsi di tempat laen. Jadi kita pilih makan di Nasi Pedes Ibu Andika. Harganya cukup bersahabat. Gw makan pake ayam pedes, sayur, sama udang aja kena 13rb. Anehnya temen gw yang pake lauk yang gak pedes harganya lebih mahal. Contoh, temen gw makan sama ayam goreng biasa sama tahu apa tempe gitu ya, kena 16 rb. Haha, entah kenapa, kita juga gak tau harga satuannya berapa. Apa karena judulnya Nasi pedes, jadi yang gak pedes bukan termasuk menu andalan, jadi margin untungnya digedein?haha, ngarang. Terima nasib aja deh Guh, Ti, Tih :P. Abis dari situ kita ke Krisna lagi. Iya balik lagi, yang kemaren kagak cukup. Soalnya pas mau balik gini baru kepikiran: si ini belum dibeliin, si itu belum dibeliin, oleh2 buat anak2 belum ada, dll. Emang harusnya beli oleh2 itu di akhir, pas udah gak ribet sama itenary. Jadi kita belanja penghabisan. Penghabisan sisa duit maksudnya.haha. Gw akhirnya beli gantungan kunci sama kacang disco lagi buat oleh2 anak2. Gw juga beli barong buat gw yang emang belum beli apa2 buat gw. Cukup ah, budget belanja gw (sekitar 200rb an)udah abis. Beres dari krisna kita keluyuran lagi ke Kartika plaza. Karna emang udah malem banget, jadi banyak toko yang udah pada tutup. Gw sih menikmati suasana malamnya. Cuma liat2 dan cukup tau aja. Terus dari situ gw sama 2 temen gw balik ke hotel. Sedangkan 2 temen gw yang banci poto nih, masih keluyuran nyampe hardrock. Gw sih udah gempor gak tahan, makanya balik aja ke hotel. Di hotel, abis mandi, kita sempet main uno dulu sebelum packing dan tidur. Aneh emang. Padahal besok pagi rencananya mau liat sunrise di sanur.

Categories: beranda dunia, lantai mozaik | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.